Oleh: Ramadhani, warga Provinsi Jambi
Guruku pahlawanku, guruku orang tua keduaku. Kata itu menjadi pengingat peristiwa yang pernah aku alami pada tahun 1990 sampai 2000-an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.
Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat hendak masuk rumah, aku bertemu Papa yang sedang menjahit di mesin jahit.
“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” kataku sambil menangis.
Sejenak Papa berhenti. Matanya sedikit melotot, seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, ia hanya bertanya tanpa mengetahui kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”
“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.
Aku pikir Papa pasti membelaku dan besok akan datang ke sekolah. Namun, tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya-tanya.
Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, ia justru memukul lebih keras daripada guruku. Lalu, ia mengambil gunting dan membotaki rambutku. Aku menyesal telah memberitahunya. Ternyata, jauh lebih menyakitkan.
Peristiwa itu terpatri dalam ingatanku hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri, kenangan itu bukan menjadi kenangan pahit, melainkan kenangan indah.
Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.
Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tetapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan sebagai fondasi bagi masa depan.
Lihatlah sekeliling kita: mereka yang kini menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara yang menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter, serta insinyur.
Semua itu karena siapa, kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah?
Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Namun, mereka tak mungkin mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati terhadap sesama.
Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang yang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak pukul 07.00 pagi, bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang, mereka harus mengoreksi tugas dan ujian hingga pulang larut malam.
Waktu berharga mereka dihabiskan bukan untuk anak di rumah, melainkan untuk anak-anak orang lain yang baru dikenal.
Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah: agar anak-anak didiknya tumbuh menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.
Ketika menjadi orang yang dihormati—bahkan gubernur sekalipun—seorang guru tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Mereka juga tak akan mengingat-ingat apa yang telah diajarkan.
Namun, perbedaan zaman sekarang terasa sangat jauh. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tetapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.
Begitu bodohnya jika orang tua melihat anaknya mendapat hukuman atau teguran dari guru, lalu otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan yang sebenarnya.
Ada pula yang menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkannya ke aparat penegak hukum. Lebih parah lagi, ada murid yang mengeroyok gurunya.
“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri—mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup—sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”
Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan jika guru hanya fokus pada mata pelajaran, tanpa sentuhan kasih sayang. Ilmu yang diberikan pasti terasa hampa.
Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian.
Hai para murid, cintailah gurumu!










