CiciTvJambi.com – Pelaminan pengantin dan baju adat Melayu Jambi bukan sekadar simbol pesta pernikahan, melainkan refleksi nilai, martabat, serta pandangan hidup masyarakat Melayu yang berakar pada ajaran Islam. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. (Rio Tanum Cendikio Agamo) dalam Seminar Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi bertajuk “Refleksi Akademis: Pelaminan Pengantin dan Baju Adat Melayu Jambi”.
Menurut Prof. Mukhtar, pelaminan dan busana adat adalah “bahasa budaya” yang menuturkan filosofi hidup dan pandangan moral suatu masyarakat.
“Dalam konteks Melayu Jambi, pelaminan bukan sekadar hiasan, tetapi rumah marwah, tempat cinta disahkan, tanggung jawab dimulai, dan adat dimuliakan,” ujarnya.
Mengutip teori antropolog Clifford Geertz dan Victor Turner, Prof. Mukhtar menjelaskan bahwa pelaminan di berbagai peradaban dunia berfungsi sebagai “panggung sakral penyatuan dua insan.”
Dalam tradisi Melayu Jambi, pelaminan menggambarkan rumah baru yang diliputi doa dan restu. Warna emas melambangkan kemuliaan, merah berarti semangat dan keberanian, sementara putih mencerminkan kesucian iman.
“Setiap unsur pelaminan memiliki filosofi mendalam. Mahkota melambangkan kebijaksanaan, kain songket menandakan kerja keras dan kemakmuran, sementara bunga melati dan kenanga menjadi simbol keharuman cinta dan kehormatan keluarga,” paparnya.
Busana adat Jambi, lanjutnya, terdiri atas baju kurung tanggung dan kain songket yang sarat makna moral dan spiritual. Pakaian pengantin pria biasanya berwarna merah bersulam emas lengkap dengan lacak di kepala, sedangkan pengantin wanita mengenakan baju kurung dengan pesangkon (mahkota).
“Setiap jahitan dan sulaman bukan sekadar hiasan, tapi pendidikan karakter. Baju adat Melayu menutup tubuh, tapi membuka martabat,” ungkapnya.
LAM Provinsi Jambi melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2014 juga menegaskan bahwa pelaminan dan busana adat harus mencerminkan nilai-nilai Islam: menutup aurat, sederhana, dan mengandung keindahan (jamal).
Dalam seminar tersebut, Prof. Mukhtar juga menyoroti pentingnya pelestarian adat di era global dan digital. Ia mendorong digitalisasi pelaminan dan busana adat dalam format 3D dan tur virtual sebagai upaya promosi budaya ke tingkat internasional.
“Teknologi boleh mengubah rupa pelaminan, tapi tidak boleh menghapus maknanya. Globalisasi membuka jendela dunia, sementara adat menjaga pintu hati,” katanya tegas.
Selain itu, ia mengusulkan kolaborasi antara unsur arsitektur Islam Timur Tengah dan motif khas Jambi seperti pucuk rebung, daun sirih, dan resam. Menurutnya, langkah tersebut bisa memperkuat daya saing industri kreatif berbasis adat di Provinsi Jambi.
Prof. Mukhtar menegaskan bahwa adat Melayu Jambi harus terus menjadi panduan moral masyarakat modern.
“Budaya yang berakar kuat tidak menolak kemajuan, tetapi menyaring globalisasi dengan akal budi,” ujarnya.
Ia menutup paparannya dengan pesan kuat:
“Pelaminan dan baju adat Melayu Jambi bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi identitas masa depan bangsa. Dari sinilah kita membangun jati diri Jambi yang beradab, berilmu, dan bermarwah.”











